Begini ceritanya…
Pada suatu hari ditengah gaung suara ombak Pantai Aie Manih, Maling Kondang mengutarakan maksud hatinya kepada ibunya. Maling Kondang bermaksud pergi merantau ke negeri seberang, guna menambal ban motornya yang bocor. Sang ibu tak kuasa menahan, akhirnya menyetujui maksud dari anaknya. Bahkan melepas anak satu-satunya yang dicintai dengan cucuran air mata untuk pergi menambal ban motornya yang bocor…
Sudah 3 hari tepatnya motor Maling Kondang jadi penunggu HM yang setia. Ban depan yang bocor membuat motor tersebut ngga bisa dipake. Alhasil motor dengan nomor polisi AB 5926 YC terpaksa harus grounded di depan bekas toilet deket HM. Selama 3 hari Maling Kondang jadi agak kerepotan karena tidak bisa mobiling dengan bebas. Untuk bekerja, Maling Kondang terpaksa harus kesana kemari mencari pinjeman motor…
Melihat anaknya yang masih dilanda kesusahan seperti ini, ibu Maling Kondang pun mengurungkan niatnya untuk mengutuk Maling Kondang menjadi batu..dan mengijinkan anaknya untuk pergi…

Pada malam Jum’at, tepatnya tanggal 20 November sebelum masehi, akhirnya Maling Kondang membulatkan tekadnya untuk pergi ke negeri seberang. Dengan semangat yang kuat, Maling Kondang pergi meninggalkan ibunya dan HM tanah kelahirannya untuk pergi menambalkan ban motornya. Motor yang lumayan keren tersebut dibawanya sampai ke negeri seberang. Perjalanan yang cukup jauh tidak menyurutkan dan memadamkan api semangat seorang Maling Kondang.